Senin, 26 Maret 2012

Kisah Sekolah Para Binatang

13.51

Di tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan setiap siswa harus berhasil dalam lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah. Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah : terbang, berenang, memanjat, berlari dan menyelam

Setelah lulus dari sekolah tersebut, para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana mulai dari : elang, tupai, bebek, rusa, dan katak.

Proses belajar mengajarpun dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu : elang sangat unggul dalam pelajaran terbang, dia memiliki kemampuan diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger di dahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat, dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.

Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyeberangi dan mengitari kolam yang ada di dalam hutan tersebut.


Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari, kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.

Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.

Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan itu, para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupai pun demikian, ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang, tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.

Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang, tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainnya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.

Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya, perlahan-lahan elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.


Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu, dan yang sangat menyedihkan adalah mereka mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan keunggulan yang mereka miliki.


Mengapa hal itu terjadi ??

1. Belajar adalah sebuah proses bukan hasil.

Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai, siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh nilai akhir. Keseharian siswa dalam belajar tidak ada nilainya, 


2. Belajar bukan menghafal.
Apa beda belajar dengan menghafal? Produk dari sebuah pembelajaran adalah kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. 


3. Perlakuan yang sama untuk setiap anak yang berbeda-beda.
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak, maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal, namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama. 

Apa beda mendidik dengan mengajar...?
Mendidik adalah proses membangun moral dan perilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya perilaku atau akhlak yang baik.


biMBA-AIUEO hadir dengan metode yang sangat menghargai proses belajar setiap anak. biMBA menumbuhkan MINAT anak untuk senang dengan kegiatan baca dan belajar, yang akan berdampak pada meningkatnya kemampuan membaca pada anak secara luar biasa.

di biMBA...anak tidak diajarkan untuk menghafal, tetapi dibangun logika berpikirnya dengan metode dan cara-cara yang menyenangkan. Arti membaca di biMBA-AIUEO bukan anak bisa membunyikan kata atau kalimat, tetapi mereka mengerti apa dibaca.

biMBA menggunakan 4 metode untuk menumbuhkan MINAT baca dan belajar anak, yaitu FUN LEARNING, SMALL STEP SYSTEM, INDIVIDUAL SYSTEM, dan VARIATION SKILL. Artinya proses belajar di biMBA-AIUEO dilakukan dengan cara-cara dan dalam suasana yang sepenuhnya menyenangkan bagi anak, dengan cara bertahap dan melalui pendekatan personal. 

Hal ini dilakukan karena biMBA menyadari bahwa setiap anak adalah anugerah. Setiap anak adalah unik, mereka terlahir cerdas dengan kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Tidak ada anak yang bodoh, tidak ada anak yang nakal, dan tidak ada anak malas, mereka hanya membutuhkan pendekatan dan perlakuan yang berbeda.

Ayo...kita wariskan MINAT belajar pada anak sejak usia dini bersama biMBA-AIUEO.
Salam biMBA...tetap semangat, luar biasa dan selalu ceria.

Categorized |

0 Responses to “Kisah Sekolah Para Binatang”

Posting Komentar

Popular Posts